Senin, 23 April 2012

laporan pengetahuan lingkungan



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Praktek Lapangan
Pengetahuan lingkungan merupakan mata kuliah umum yang diharapkan dapat memperluas cakrawala pengetahuan mahasiswa tentang keadaan lingkungan masyarakat, sehingga wawasannya tidak terbatas pada bidang keahliannya masing-masing. Selain itu, mahasiswa dapat berpikir secara “lintas sektoral” dan generalis tentang masalah lingkungan merupakan mata kuliah umum dengan visi berkembangnya mahasiswa sebagai manusia terpelajar yang kritis, peka dan arif dalam memahami keragaman kesetaraan dan kemartabatan manusia yang dilandasi nilai-nilai estetika dan etika dan moral dalam berkehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu kami melakukan  praktek lapangan berhubungan dengan mata kuliah pengetahuan lingkungan dasar di Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. adalah salah satu daerah tempat warga bermukim, tempat ini merupakan tempat yang terkenal dengan tempat-tempat wisatanya. Pada daerah ini terdapat banyak vila dan perumahan yang disewakan menanadakan bahwa tempat ini merupakan lokasi wisata yang diminati oleh banyak orang.
Dalam hal ini sesuai tujuan pembelajaran, kami melakukan studi lapangan ini yaitu untuk menganalisis perubahan-perubahan lingkungan di malino kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa ini, serta menganalisis penyebab dan  dampak dari perubahan lingkungan tersebut baik terhadap masyarakat maupun komponen-komponen lain yang ada di daerah tersebut.

B.     Tujuan Praktek Lapangan
Kegiatan praktek lapang Pengetahuan lingkungan bertujuan untuk :
1.      Untuk mengetahui kondisi sosial masyarakat, khususnya di Kabupaten Gowa.
2.      Untuk mengetahui kondisi ekonomi masyarakat khususnya di Kabupaten Gowa.
3.      Untuk mengetahui kondisi fisik wilayah di Kabupaten Gowa.
4.      Untuk mengetahui pengaruh pendatang terhadap suatu wilayah khususnya di Kabupaten Gowa.


C.    Manfaat Kegiatan Praktek Lapangan
 1.   Mahasiswa dapat mengetahui kondisi sosial masyarakat sekitar.
 2.   Mahasiswa dapat mengetahui kondisi ekonomi masyarakat sekitar.
 3.   Mahasiswa dapat mengetahui kondisi fisik suatu wilayah.
 4.   Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh pendatang terhadap suatu wilayah.
 5.   Dapat menambah wawasan mahasiswa tentang alam dan masyarakat sekitarnya.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Problematika Lingkungan
Masalah lingkungan yang kita hadapi sekarang merupakan masalah ekologi manusia. Masalh itu timbul karena aktifitas manusia yang menyebabkan lingkungan tidak atau kurang sesuai lagi untuk mendukung kehidupan manusia. Baljar dari kasus-kasus yang telah terjadi sebelumnya maka semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat mulai vocal dalam menyuarakan keperihatinanya terhadap masalah lingkungan. Puncak perhatian tehadap masalah lingkungan ini pada saat diselenggarakan konferensi PBB tentang lingkungan hidup di Stockholm pada bulan juni 1972, yang dikenal dengan konferensi stockhplm pada bulan juni 1972, sehingga ditetapkan sebgai hari lingkungan hidup sedunia (Tim Dosen, 2011:1-2)

a. Pengertian Linkungan Hidup
Linkungan hidup adalah “kesatuan ruang dalam semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya ynag mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk lain” (UU RI No. 23 Tahun 1997). Pada pengertian ini tercantum dua kali kata manusia yakni manusia sebagai subjek (manusia dan perilakunya) dan manusia sebagai objek (yang akan terpengaruh). Dalam lingkungan hidup kita jumpai benda dan daya yang memungkinkan manusia dan makhluk lain dapat hidup dan berkembang biak. Benda dan daya ini biasanya dikelompokkan kedalam komponon fisik lingkungann hidup atau biasa juga disebut sebagai komponon abiotik. Makhluk hidup yang terdiri dari satwa dan tumbuhan termasuk komponen biotic sedangkan makhluk hidup berupa manusia disebut komponen social, ekonomi dan budaya serta kesehatan masyarakat disebut sebagai komponen kultur (cultur). Untuk singkatnya, lingkungan hidup terdiri atas tiga komponen abiotik, biotic dan cultur, atau sering disebut sebagai konsep ABC (Tim Dosen, 2011:3).
  
b. Permasalahan Lingkungan Hidup
Perkembangan kehidupan manusia mewujudkan semakin modern tingkat kehidupan manusia, semakin besar kerusakan dari pencemaran lingkungan hidup yang ditimbulkan. Disamping itu perkembangan kehidupan tersebut juga menyebabkan makin menipisnya sumberdaya alam yang ada dibimi ini. Masalah lingkungan hidup ini ada yang bersifat regional, dan global. Luas besarnya masalah tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat besarnya masalah (tim dosen, 2011:4).
Dalam modul pengantar pengelolaan lingkyungan ldikemukakan permasalahan lingkungan global yakni:
1. kerusakan dan menipisnya sumber lingkungan global
2. kerusakan atmosfer yang berakibat pada perubahan iklim
3. kerusakan lapisan ozon
4. kerusakan dan menipisnya sumber daya hutan
5. menipisnya keanekaragaman hayati
6. pencemaran dan menipisnya sumber daya kelautan
Menurut Agus (2011) Salah satu masalah lingkungan yang paling akrab di masayarakat Indonesia adalah banjir, ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya banjir, yaitu sebagai berikut:
1. penyebab banjir akibat tindakan manusia
·         Perubahan tata guna lahan
·         Pembuangan sampah
·         Kawasan kumuh disepanjang sungai / drainase
·         Perencanaan system pengendalian banjir tidak tepat
·         Penurunan tanah
·         Tidak berfungsinya system drainase lahan
·         Bendung dan bangunan air
·         Kerusakan banguna pengendalian banjir


2. penyebab banjir akibat alam
·      Erosi dan sedimentasi
·      Curah hujan
·     Pengaruh fisiologis/geofisik sungai
·     Kapasitas sungai dan drainase tidak memadai
·    Pengaruh air pasang

B.  Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam dan Lingkungan
a. Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya Terhadap Lingkungan
Di indonesia masalah pertambahan penduduk masih cukup memperihatinkan, kalaupun berbagai upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah. Pada awal pelita I, penduduk Indonesia berjumlah sekitar 120 juta, dengan pertumbuhan rata-rata diatas 2,6%setahun kemudian pertumbuhan tersebut telah dapat ditkan menjadi 2%, namun pertambahan jumlah penduduk masih cukup besar (Tim Dosen,2011:29).
Akibat pertumbuhan penduduk yang makin pesat tersebut akan menimbulkan banyak masalah. Masalah di bidang kependudukan di Negara berkembang terdapat kecenderungan perpindahan penduduk secara dramatis dari wilayah pedesaan kewilayah perkotaan (Tim Dosen, 2011:30)

 b. Sumber Daya Alam dan Dampaknya Terhadap Lingkungan
Sumber daya alam merupakan unsure lingkungan alam, baik fisik maupun hayati yang diperlukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya dan meningkatkan kesejahteraannya. Manusia dalam melaksanakan segala kegiatannya selalu memanfaatkan sumber daya alam. Hal tersebut akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan baik positif maupun negative (Tim dosen, 2011:31).



Strategi bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup
·         Sumber Daya Alam
Mengoptimalkan upaya konservasi, rehabilitasi dan penghematan sumber daya pertambangan, energi dan air melalui sosialisasi penghematan, kepedulian dan kesadaran masyarakat, meningkatkan kerjasama antar unit/instansi terkait dalam pengelolaan dan penegakan hukum.
·         Lingkungan Hidup
Meningkatkan partisipasi dan akuntabilitas masyarakat, swasta dan pemerintah dalam mengatasi pencemaran lingkungan hidup dan meningkatkan sistem pengelolaan lingkungan, menyediakan RTH di permukiman padat dan kumuh sebagai ruang interaktif, mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan taman, serta penegakkan hukum yang tegas dalam penanganan sumber pencemaran lingkungan.
·         Kebersihan
Meningkatkan partisipasi dan akuntabilitas masyarakat, swasta dan pemerintah dalam penanganan masalah sampah, pelayanan dan fasilitas kebersihan, menyediakan lokasi TPA baru, meningkatkan kemampuan penanganan limbah B3, serta mengupayakan teknologi hemat lahan dalam pengelolaan sampah.   

c. Dampak Teknologi Terhadap Lingkungan
Menurut Tim Dosen (2011), penggunaan dan perkembangan IPTEK menimbulkan akibat sebagi berikut:
1. mutasi gen manusia terselubung
2. efek rumah kaca
3. hujan asam
d. Etika Lingkungan
Dengan etika lingkungan kita tidak hanya mengimbangi hak dengan kewajiban tehadap lingkungan, tetapi etika lingkungan juga membatasi tingkah laku dan upaya untuk mengendalikan berbagai kegiatan, agar tetap berada dalam batas kelentingan lingkungan hidup kita. Bahkan mungkin perlu diperjuangkan hak asasi kehidupan atau hak asai lingkungan hidup, dimana hak asasi yang terdahulu itu (Tim Dosen, 2011:35).

e. Matriks Bidang Sumber Daya Alam dan Lingungan Hidup
Menurut Renstrada (2009), matriks bidang sumber daya alam dan lingungan hidup adalh sebagi berikut:
Tabel 1.1 Matriks Bidang Sumber Daya Alam dan Lingungan Hidup
Arah Kebijakan
Strategi
Program
Indikator Kerja
Sumber Daya Alam



Mengelola sumber daya
alam (SDA) dan
memelihara daya dukung
serta upaya konservasi,
rehabilitasi dan
penghematan penggunaan
sumber daya alam yang
menerapkan teknologi
ramah lingkungan
Mengoptimalkan upaya
konservasi, rehabilitasi dan
penghematan sumber daya
pertambangan, energi dan air
melalui sosialisasi
penghematan, kepedulian dan
kesadaran masyarakat,
meningkatkan kerjasama
antar unit/instansi terkait
dalam pengelolaan dan
penegakan hokum
1. Pengembangan sumber
daya pertambangan dan
energy











2. Pengembangan   sumber
air tanah
a) Meningkatnya pemanfaatan
hasil tambang dan energi
untuk mendukung
kesejahteraan masyarakat
b) Tercapainya stabilitas
distribusi BBM dan gas untuk
memenuhi kebutuhan
masyarakat dan usaha.

a) Terkendalinya penggunaan air
tanah oleh instansi
pemerintah, dunia usaha dan
masyarakat
b) Terjaganya cadangan
sumber air tanah melalui
penambahan sumur resapan,
injection well dan reservoir air
bawah tanah
Lingkungan Hidup



Menyeimbangkan
kepentingan lingkungan
hidup dengan kepentingan
sosial ekonomi masyarakat
dalam konteks
pembangunan
berkelanjutan
Meningkatkan partisipasi dan
akuntabilitas masyarakat,
swasta dan pemerintah dalam
mengatasi pencemaran
lingkungan hidup dan
meningkatkan sistem
pengelolaan lingkungan,
menyediakan RTH di
permukiman padat dan
kumuh sebagai ruang
interaktif, mengikutsertakan
masyarakat dalam
pengelolaan taman, serta
penegakkan hukum yang
tegas dalam penanganan
sumber pencemaran
lingkungan
1. Peningkatan Kualitas
Lingkungan





















2. Peningkatan
Pengendalian Dampak
Lingkungan

















3. Penataan dan
Pengembangan Ruang
Terbuka Hijau (RTH)










4. Penyerasian dan
Keindahan Lingkungan
a) Meningkatnya fungsi laut
sebagai sumber daya
ekonomi, transportasi dan
pariwisata
b) Meningkatnya fungsi
sungai/kali sebagai sumber
daya ekonomi dan wisata
c) Meningkatnya peranserta
masyarakat dan swasta
dalam pengelolaan fungsi
sungai dan laut
d) Terkendalinya emisi gas
pencemar udara

a) Terkendalinya pelaksanaan
kegiatan yang berdampak
pada lingkungan hidup
b) Meningkatnya pemahaman
dan kepedulian masyarakat
dan swasta akan
pentingnya lingkungan
hidup
c) Terlaksananya penegakan
hukum terhadap
pelanggaran di bidang
lingkungan hidup

a) Meningkatnya kualitas dan
kuantitas ruang terbuka
hijau dan ruang interaksi
publik
b) Terciptanya keseimbangan
lingkungan kehidupan yang
lebih sehat, indah dan
nyaman

a) Meningkatnya kualitas dan
kuantitas taman kota
b) Tertatanya dengan baik
penempatan ornamen dan
street furniture, termasuk
media luar ruang
c) Meningkatnya perencanaan
keserasian ornamen kota
terhadap unsur-unsur kota
lainnya
Kebersihan




Menciptakan kota yang
bersih, bebas dari polusi
dengan pemanfaatan
teknologi tepat guna
Meningkatkan partisipasi dan
akuntabilitas masyarakat,
swasta dan pemerintah dalam
penanganan masalah
sampah, pelayanan dan
fasilitas kebersihan,
menyediakan lokasi TPA
baru, meningkatkan
kemampuan penanganan
limbah B3, serta
mengupayakan teknologi
hemat lahan dalam
pengelolaan sampah
1. Peningkatan sarana dan
Prasarana Kebersihan












2. Peningkatan Pelayanan
Kebersihan
a) Meningkatnya pelayanan
kebersihan
b) Meningkatnya ketersediaan
sarana dan prasarana
kebersihan
c) Tersedianya lokasi TPA dan
pengolahan sampah dengan
teknologi penanganan yang
tepat guna

a) Meningkatnya kesadaran
dan peranserta masyarakat
terhadap kebersihan kota
b) Meningkatnya kebersihan
kota
c) Meningkatnya kinerja aparat
kebersihan
Sumber : Renstrada DKI Jakarta 2002-2007
C.  Ekologi Sebagi Dasar Ilmu Lingkungan
Ekologi
a. Pengertian Ekologi
Ekologi berasal dari bahas ayunani “oikos” yang berarti rumah atau rumah tangga atau tempat tinggal, dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi mempelajari rumah tangga lingkungan, tempat hidup semua organism, seluruh proses-proses fungsional yang menyebabkan tempat hidup itu cocok untuk didiami. Secara harfiah, ekologi adalah ilmu yang mempelajari organism di tempat hidupnya dengan menggunakan pola hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Secara tradisional ekologi biasanya diberibatasan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dalam lingkungannya (Tim Dosen, 2011:43).
Menurut Tim Dosen (2011), pengertian ekologi dapat disimpilkan sebagi beruikut:
           1. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbale balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
           2. Ekologi adalah ilmu tentang makhluk hidup dan dalam habitatnya.
           3. Ekologi adalah ilmu tentang struktur dan fungsi ekosistem.
Ekologi pertamakali diperkenalkan oleh Ernest Haeckel seorang ahli biologi jerman pada tahun 1869. Dalam pengertian prosees alamiah, ekologi telah diketahuindan diaplikasiakan sejak dulu dan terus berkembang sejalan dengan perkembangan akal  dan budaya manusia. Sebagai ilmu ekologi telah berkebang pesat sejak tahun 1990. Berdasarkan perkembangannnya, sekarang dikenal ilmu lingkungan hidup dan biologi lingkungan. Pada dasarnya yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang tempat organisme berada dan dapat saling mempengaruhi. Ekologi adalah dasar pokok ilmu lingkungan (Soerjaatmadja, 1981:4).

b. Ruang Lingkup Kajian Ekologi
Kajian ekologi tidak telepasa dari kajian mengenai sitem makhluk hidup atau biosistem. Biosistem tersusun atas komponen biotic dan abiotik. Setiap komponen biotic membutuhkan semua komponen abiotik yang meliputi materi, energy ruang, waktu dan keanekaragaman untuk membentuk ekoisistem secara utuh (Tim Dosen, 2011:43)
Menurut Soerjani (1985), pembagian ekologi ada 4 yaitu:
1. Autekologi, mempelajari satu jenis organisme dan interaksinya dengan lingkungan. Pembahasan pada aspek siklus hidup, adaptasi, sifat parasitic dan lain-lain.
2. Sinekologi, mengkaji berbagai kelompok organism sebagai kesatuan yang saling berinteraksi dalam satu daerah tertentu. Sering dikenal dengan ekologi komunitas.
3. Pembagian ekologi berdasarkan habitat, kajian ekologi menuryt habitat dimana organism hidup misalnya ekologi laut, ekologi padang rumput, ekologi padang tropika, dan lain-lain.
4. Pembagian ekologi menurut taksonomi, kajian ekologi menurut taksa organism, misalnya ekoologi tumbuhan, ekologi hewan, ekologi mikroorganisme, dan lain-lain.

c. Hubungan Ekologi dengan Ilmu Lingkungan
Pada dasarnya ekologi adalah ilmu dasar untuk mempertanyakan, menyelidiki dan memahami bagaimna alam bekerja, bagaimana keberadaan makhluk hidup dalam setiap kehidupan, apa yang mereka perlukan dari habitatnya untuk dapat melangsungkan kehidupan, bagiman mereka mencukupi kebutuhannya, bagaimna mereka melakukan interaksi dengan komponenlain dsan dengan spesies lain, bagiman individu dalam spesies dapat beradaptasi, bagaiman  makhluk hidup menghadapi keterbatasan dan harus toleran terhadap berbagai perubahan, bagaiman individu dalm spesies mengalami pertumbuhan sebagai bagian dari suatu populasi dan komunitas. Semua ini berlangsung dalam satu proses yang mengikuti tatanan prinsip dan ketentuan alam yang rumit tetapi cukup teratur yang dengan ekologi kita mencoba memhaminya. Dimana perlu dengan menyederhanakannya, walaupun kita menyadari bahwa dibalik kesederhanaan itu tetap tersimpan kerumitan yang mendalam (Soerjani,1987:2).
Dapat dikatakan bahwa ilmu lingkungan sebenarnya merupakan ilmu terapan dari ekologi yang murni sifatnya, yakni bagaimana menerapkan berbagai prinsip dan ketentuan ekologi itu, dalam kehidupan manusia, atau ilmu yang mempelajari tentang bagaimana manusia harus menmpatkan dirinya dalam ekosistem, dalam lingkungan hidupnya (Soerjani, 1987:3).

 Ekosistem
a. Pengertian Ekosistem
 Suatu konsep sentaral dari ekologi adalah ekositem, yaitu suatu system ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbale balik antara makhluk hidup dan lingkungannyan. Suatu system terdiri dari komponen yang bekerjas sama sebagai suatu kesatuan. Ekosistem pertama kali dikemukakan oleh transley pada tahun 1935. System ini mempunyai beberapa nama lain. Forns tahun 1887 menyebut ekosistem sebagai mikrokosm, frederich tahun 1930 menyebut holocoen, dan theiennemann tahun 1939 menyebut biositem (Soemarwoto, 1995:16).

b. Komponen Ekosistem
Menurut Sorjaatmadja (1981), pembagian ekosistem dapat dituliskan sebagai berikut:
1. Berdasarkan makanan
·      Komponen autotrofik, merupakan organism yang dapat menyediakan makanannya sendiri (fotosintesis).
·      Komponen heterotrofik, merpakan organusme yang hanya memanfaatkan bahan organic.
2. Berdasarkan funsional
·      Aliran energy
·      Rantai makanan
·      Pola keanekaragaman dalam waktu dan ruang
·      Daur makanan (biogeokimia)
·      Perkembangan dan evolusi
·      Pengendalian
3. Berdasarkan unsure penyusun
·      Senyawa norganic (C, N, P, H2O, dan lain-lain yang terlibat dalam daur materi)
·      Senyawa organic (protein, karbohidrat, lemak, dan lain-lain)
·      Resim iklim, berupa factor fisik
·      Produsen (organism autotrofik)
·      Konsumen (organism heterotrofik)
·      Pengurai (saprofit dan osmotrof)
c. Bentuk-Bentuk Ekosistem
Menurut Tim Dosen (2011), bentuk-bentuk ekosistem adalah sebagai berikut
1. Ekosistem peraiaran dalam
Ekosistem peraairan dalam terletak beberapa ratus meter ditemui dibawah permukaan laut sehingga tidak banyak menerima cahaya matahari langsung. Oleh karena makhluk hidup yang ditemui hanya kelompok deeterivor sedangvkan semua jenis produsen tidak hidup.
2. Ekosistem perairan dangkal
Ekositem ini terletak dipantai yang tertutupi air laut dan sangat jauh dari sungai yang besar. Di Indonesia, ekosistem pantai seperti ini terdapat dipantai utara jawa, bali, sumbwa dan Sulawesi. Ekosistem litoral terdiri dari sub ekosistem pantai batu dan sub ekosistem karang batu, subekosistem karang batu tersusun atas batu-batu kecil sebagai hasil proses konglomerasi dengan tanah liat dan kapur atau tebentuk dari bongkahan-bongkahan granit, sedangkan subekosistem pantai batu terbentuk sebagi hasil kegiatan beberapa organism colentrata, cacing, siput, dan ganggang berkapur.
3. Bioma Tundra
Bioma tundra terdapat di sekitar kutub utara. Bioma ini terletak di bagian selatan laut kutub yang tertutup es.
4. Bioma taiga
Bioma taiga terletak dibagian selatan kutub utarayaitu sekitar amerika utara, Eropa, dan Asia
5. Hutan Hujan Tropik
Bioma ini terdapat disepanjang khatulistiwa, meliputi tanah amazon, amerika selatan, Indonesia, India Barat, Asia tenggara, Australia timur laut dan lembah kongo di Afrika.
6. Hutan Sabana
Hutan sabana terdapat di daerah-daerah dengan musim kemarau tropic yang sangat panjag dan kering.
7. Hutan Mangrove
Mangrove adalah khas daerah tropis yang hidupnya hanya brkembang baik pada temperature dari 190-40o. hutan mangrove menangkap dan mengumpulkan sedimen yyang terbawa arus pasang surut dari daratan lewat aliran sungai.

8. hutan Rawa
Hutannrawa Tuk karena keadaan tanah yang sangat basah. Keanekaragaman hewan pada hutan rawa sangat rendah, hanya ditemukan babi hutan, macam-macam ular air, ikan-ikan dan burung pencakar ular.
d. Energi dalam Ekosistem
Energy adalah kemampuan untuk melakukan kerja. Energy dapat memanifestasikan berbagi bentuk yaitu bentuk radiasi cahaya, bentuk energy panas, energy ikat kimia, energy mekanis, dan energy listrik. Pada hakikatnya manifestasi kehidupan yang dinyatakan dalam rangkaian peruhan-perubahanseperti membuat makanan (sintesis bahan organic), bernapas, tumbuh, berkembang, bergerak, semuanya hanya dimungkinkan oleh adanya perpindahan dan perubahan energy. Dapat dikatakan bahwa manifestasi kehidupan adalah salah satu dari berbagai bentuk manifestasi energy (Tim Dosen, 2011:61-62)
Rantai makanan adalah pengaliran energy dari sumbernya dalam tumbuhan, melalui sederetan organism yang makan dan dimakan. Oleh karena itu rantai makanan merupakan prinsip yang menjelaskan tentang hubungan antara produsen, konsumen, dan pengurai dalam memperoleh makanan (Tim Dosen, 2011:62) .
Menurut Tim Dosen (2011), konsep aliran energy dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.  Banyak sekali energy yang diperlukan untuk menjalankan aktivitas kehidupan dalam satu ekosistem banyaknya energy yang diperoleh dalam bentuk panas yang tidak dapat digunakan lagi.
2.  Tiap ekosistem  yang terbatas kemampuan untuk member makanan maka enrgi juga terbatas. Jika populasi konsumen melampaui batas-batas kemampuan ekosistem bersangkutan, maka akibatnya keseimbangan ekosistem itu akan terganggu dan kemungkinan mematiakan ekosistem itu.
3.  Makin pendek rantai makanan atau makin dekat kepada produsen sebagai mata rantai makanan, makin banyak energy yang digunakan yang berarti makin banyak individu yang dapat diberi makan.
e. Piramida Ekologi
Piramida ekologi adalah plot jumlah individu dalam ukuran kelas yang berbeda dan jmlah biomassa atau produktivitas pada berbagai tingkat tropic, sedangkan tingkat tropic merupakan jarak transfer makanan tertentu dari sumber energy yang ditempati kelompok organism.
1. Piramida Jumlah
Piramida ini mengelompokkan individu yang menempati daerah tertentu berdasarkan tingkat tropiknya.
2. Piramida Biomassa
Piramida ini mengelompokkan individu yang memiliki tiap tiangkatan tropic berdasakan biomassanya. Biomassa tersebut juga standing crop yaitu jumlah nyata materi hidup yang terkandung dalam ekosistem. Piramida ini dianggap lebih baik dari pada piramida jumlah, karena hubungan kuantitatf biomassa dapat telihat
3. Piramida Energy
Piramida energy berdasar atas kecepatan aliran energy dan tau produktivitas dan dinyatakan dalam mg berat kering/m2/waktu. Dibandingkan kedua piramida lain, piramida ini merupakan piramida terbaik dan tidak pernah terbalik apa yang dapat digambarkan dinamika kehidupan dari komponen-komponen  penyusun ekosistem.
f. Kelestarian Ekosistem (Siklus Materi)
Mekanisme biogeokimia dalam ekosistem berlangsung bersamaan dengan berjalannya rantai makanan, karena senyawa kimia yang beredar berupa bahan makanan. Siklus ini disebut biogenesis karena siklus berlangsung secara kimiawi melalui organism (biologi) sebagai perantara dan kembali kelingkungan fisiknya melalui udara, tanah, dan air (biologis). Selama peredaran ini terjadi perubahan-perubahan yang berlangsung pada tahap tertentu (Tim Dosen,2011:70).
Lingkungan hidup tidak dapat dielakkan dari azas ekologi yang  membentuknya. Berbagai asas yang dimaksud adalah :
1.      Organisasi ekosistem.
Suatu ekosistem pada umumnya dihuni oleh mahluk hidup yang mengelompok sebagai suatu populasi. Berbagai populasi yang bersama sama menghuni suatu wilayah disebutkomunitas. Dalam konsep ekosistem, komponen-komponen lingkungan hidup secara terpadu saling terkait dan tergantung satu dengan lainnya didalam suatu sistem. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan yang holistic.
2.       Sistem produksi, konsumsi dan dekomposisi
Sistem produksi dalam ekosistem erat hubungannya dengan daur materidan daur energi. Produksi primer dari suatu sistem berasal dari proses photosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan berhijau daun dengan pengikatan energi yang berasal dari sinar matahari dalam bentuk karbohidrat.Tumbuhan berhijau daun disebut produsen primer. Dalam proses daur materi dan energi seterusnya produsen primer ini merupakan makanan konsumen primer, atau produsen sekunder atauherbivore yakni hewan pemakan tumbuhan. Selanjutnya konsumsi primer ini dapat menjadi mangsa (prey) dari konsumen sekunder yang dapat pula disebut produsen tersier.
Baik produsen primer, sekunder atau predator dapat pula mengalami peruraian perombakan atau dekomposisi menjadi bentuk bahan organik yang lebih sederhana oleh mahluk hidup yang umumnya terdiri atas jasadrenik seperti jamur, bakteri, cacing, dsb.

3.      Rantai makanan
Rantai makanan menunjukkan hubungan makan memakan dalam sebuah ekosistem. Satu organisme bergantung pada organisme lain yang lebih rendah dalam rantai makanan. Semua organisme yang mengkonsumsi jenis makanan yang sama di dalam rantai makanan berada dalam tahap tropis yang sama. Jadi, tumbuhan (produsen utama) termasuk dalam tahap tropik yang pertama, herbivore (konsumen utama) termasuk dalam tahap tropik kedua, karnivore (konsumen sekunder) yang memakan herbivore termasuk dalam tahap tropik ketiga dan karnivore sekunder (konsumen tersier ), yakni yang memakan karnivore lain, termasuk dalam tingkat tropik keempat. Melalui rantai makanan, energi dalam bentuk makanan berpindah dari organisme-organisme dalam tahap tropik yang terakhir. Konsep jaring makanan sangat diperlukan untuk memahami pentingnya memelihara keanekaan.
4.      Materi dan energi
Dalam ekosistem materi akan mengalami daur, yang disebut sebagai daur materi. Sedangkan energi akan mengalami aliran, jadi ada aliran energi. Hukum yang sangat penting dalam daur materi dan aliran energi adalah hukum termodinamika, yaitu :
a)      energi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan, hanya  mengalami transformasi. Hal ini yang dikenal denganhukum  kekekalan energy.
b)      Proses energi tidak pernah spontan, kecuali perombakan dari keadaan pekat menjadi encer. Proses transformasi energi tidak ada yang terjadi dengan 100% efisien
Hukum termodinamika erat hubungannya dengan hukum entropi, yakni semua perubahan yang menghasilkan energi adalah perombakan menjadi bentuk yang lebih sederhana, dan hal itu selalu berlangsung dengan efisiensi yang tidak pernah mencapai seratus persen, oleh karena itu selalu terjadi suatu kelebihan transformasi energi, Inilah yang berbentuk limbah.
Aliran energi merupakan proses ketika energi matahari beralih kedalam bentuk-bentuk lain (seperti panas, kimia, mekanis) dan dialirkan kedalam lingkungan, melalui bermacam-macam organisme di setiap tingkat tropik (dalam rantai makanan, dan akhirnya kembali ke lingkungan). Aliran energi di dalam lingkungan merupakan salah satu komponen fungsional utama yang melindungi ekosistem.
5.      Keseimbangan
Ekosistem memiliki kemampuan untuk memelihara sendiri, mengatur sendiri serta mengadakan keseimbangan kembali. Kemampuan seperti ini juga merupakan kemampuan individual dari manusia atau mahluk hidup lainnya. Oleh karena itu dalam sistem kehidupan ada kecenderungan untuk melawan perubahan atau setidaknya ada usaha untuk berada dalam suatu keseimbangan (homeostatis).
6.      Kelentingan
Suatu sistem akan memberikan tanggapan terhadap suatu gangguan, baik disengaja maupun tidak, sesuai dengan kelentingan (resilience) yang dimilikinya. Dalam suatu sistem dengan kelentingan yang besar, penyerapan gangguan tidak akan merubah stabilitas sistem itu, artinya sistem yang mengalami gangguan tersebut, tetap merupakan sistem semula. Sebaliknya sistem yang memiliki kelentingan kecil dengan gangguan yang sama besarnya, dapat berubah menjadi suatu sistem baru. Jadikel enti ngan sebenarnya merupakan sifat suatu sistem yang memungkinkannya kembali pada stabilitas semula.
7.      Daya dukung dan strategi hidup
Daya dukung lingkungan (carrying capacity) adalah batas teratas dari pertumbuhan suatu populasi, diatas mana jumlah populasi tidak dapat didukung lagi oleh sarana, sumberdaya dan lingkungan yang ada.
Berdasarkan strategi kehidupannya, ada mahluk yang mempunyai strategi hidup memperhatikan daya dukung lingkungan, dan akan menekan pertumbuhan populasinya apabila jumlahnya sudah mendekati kemampuan daya dukung lingkungannya. Ciri utama mahluk hidup yang demikian adalah yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya ada mahluk yang mempunyai strategi hidup tidak mempedulikan batas daya dukung lingkungan,mereka berkembang biak menurut nalurinya, melampaui daya dukung, mengalami bencana kelaparan yang menyebabkan kematian masal, sehingga populasinya terpaksa turun di bawah kemampuan daya dukung lingkungannya. Demikian seterusnya sampai mungkin terjadi stabilitas di bawah batas daya dukung lingkungannya, walaupun stabilitas itu hanya akan terjadi sementara waktu.






















BabIII
METODE PELAKSANAAN PRAKTEK LAPANG


A.  Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
1.    Waktu Pelaksanaan
Hari                    : Sabtu-Minggu
Tanggal              : 19-20 November 2011
Berangkat         : Sabtu, 19 November 2011, pukul 8.30 WITA
                             (Tempat : Pelataran  Jurusan Geografi)
Kembali             : Minggu, 20 November 2011, pukul 14.00 WITA
2.    Tempat Pelaksanaan
Praktik lapang dilaksanakan di lima titik di Kabupaten Gowa yaitu:
Objek 1  : Pasar Sore Sungguminasa
Objek 2  : Daerah Sekitar Pabrik Kertas
Objek 3  : DAM bili-bili
Objek 4  : Mayarakat Malino Di Kecamatan Tinggi Moncong
Objek 5  : Pasar Sentral Malino

B.  Alasan Pemilihan Lokasi
Ada beberapa alasan pemilihan malino sebagai lokasi praktek lapang diantaranya adalah daerah ini merupakan daerah dataran tinggi namun jaraknya cukup dekat dengan kota Makassar, selain itu menurut pengakuan beberapa pendatang  telah terjadi banyak perubahan bila dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir, factor lain yang menyebabkan permasalahan lingkungan ini semakin kompleks adalah di daerah malino ini di dominasi oleh pendatang yang membangun banyak pemukiman, melihat kekompleksan masalah di daerah ini menjadikan sebuah alasan bagi mahasiswa yang ingin meneliti tentang lingkungan.
 Daerah yang berada diatas ketinggian 1.500 DPL, ini juga pemasok utama tanaman holtikultura ke Kota Makassar dan sekitarnya, bahkan hasil dari perkebunan ini sebahagian sudah di ekspor kebeberapa negara di Asia dan Eropa. Keadaan geografisnya di Kecamatan Tinggimoncong memang indah dan khas. Kesemuanya ini baik langsung maupun tidak langsung menambah pendapatan penduduk, sehingga penduduk akan sejahtera, disamping itu perpindahan penduduk ke daerah ini meningkat dari tahun ke tahun, tapi dibalik itu semua kita juga perlu menyadari akan dampak negatif yang timbul sebagai efek dari geliat ekonomi di daerah ini
  Atas alasan inilah, sehingga kami mengambil daerah Malino. Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa sebagai sampel dari praktik lapang mata kuliah Pengetahuan Lingkungan.

C.  Alat dan Bahan yang Dipersiapkan
Adapun alat dan bahan yang digunakan yakni :
1.    Alat :
a.    Kamera
b.    Alat tulis
2.    Bahan:
a.  Kuesioner
b. Alat tulis menulis
c.  Kertas Double Folio

D.  Susunan Kegiatan di Lapangan
1.    Persiapan
a.    Pembentukan kelompok praktek lapang
b.    Penentuan lokasi dan waktu praktek lapang
2.    Kegiatan Inti
a. Objek 1 : Pemukiman masyarakat Pasar Sungguminasa
Di daerah sekitar Pasar  Sungguminasa, dilakukan wawancara dengan warga setempat dan menanyakan seputar tentang keadaan keluarga dan lingkungan dengan 2 responden.
b. Objek 2 : Pemukiman masyarak disekitar bekas pabrik kertas Bonto marannu
Di daerah sekitar pabrik kertas, dengan kegiatan yang sama pada lokasi 1 dilakukan wawancara pada 2 responden.
c. Objek 3 : Dam bili-bili
Lokasi ketiga di DAM Bili-Bili, dilakukan pengamatan terhadap daerah sekitar bendungan Bili-Bili tersebut.
d. Objek 4 : Malino kecamatan tinggimoncong
Hari pertama di Malino, dilakukan wawancara dengan warga masyarakat malino sebanyak 10 responden. Kemudkian dilaporkan,. Pada hari kedua kembali dilakukan wawancara dengan masyarakat sebanyak 10 responden dengan pengharusan responden yaitu wisatawan dan penduduk lokal. Setelah itu dilakukan MID semester mata kuliah Pengetahuan Lingkungan.
e. Objek 5 : pasar Sentral Malino
Di lokasi ini peserta diberikan kebebasan untuk berbelanja dan merupakan lokasi santai bagi peserta setelah mengikuti praktek lapang selama dua hari.
3.    Kegiatan Pasca Praktek
a.    Pembuatan laporan lengkap praktek lapang ISBD
b.    Asistensi laporan ISBD
c.    Pengumpulan laporan ISBD

E. Teknik Pengumpulan Data
Pada praktikum ini dilakukan pengumpulan data dengan menggunakan :
1.         Kuesioner
Kuesioner yang dimaksud disini adalah 3 lembar kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diberikan  kepada responden. Kemudian diisi dengan berbagai options yang akan dijawab oleh responden.
2.    Wawancara
Untuk mengisi kuisioner  yang telah tersedia maka dilakukan wawancara kepada masyarakat sebagai narasumber.
3.         Dokumentasi
Dokumentasi disini dalam bentuk foto sebagai bukti bahwa telah melakukan wawancara kepada responden.
4.         Observasi
Observasi yaitu melakukan wawancara secara langsung, bagaimana responden menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang di berikan.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Deskripsi Umum Lokasi Praktek
Secara geografi Kabupaten Gowa terletak pada koordinat antara  33’ 6” sampai   34’ 7” Lintang Selatan dan   38’ 6” sampai   33’ 6” Bujur Timur. Kabupaten Gowa terletak di bagian selatan Pulau Sulawesi. Ibukotanya Sungguminasa dengan jarak sekitar 6 km dari ibukota Makassar. Dengan luas wilayah 1.883,33 km atau sama dengan 3,01% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.Wilayah Kabupaten Gowa terbagi dalam 18 Kecamatan dengan jumlah Desa/Kelurahan definitif sebanyak 167 dan 726 Dusun/Lingkungan. Wilayah Kabupaten Gowa sebagian besar berupa dataran tinggi berbukit-bukit, yaitu sekitar 72,26% yang meliputi 9 kecamatan yakni Kecamatan Parangloe, Manuju, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu. Selebihnya 27,74% berupa dataran rendah dengan topografi tanah yang datar meliputi 9 Kecamatan yakni Kecamatan Somba Opu, Bontomarannu, Pattallassang, Pallangga, Barombong, Bajeng, Bajeng Barat, Bontonompo dan  Jumlah penduduk Kabupaten Gowa sampai dengan tahun 2005 mecapai 575 295 jiwa yang terdiri atas 283.291 jiwa laki-laki dan 291.882 jiwa perempuan. Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Gowa sebagai berikut :
Sebelah Utara           : Kotamadya Makassar dan Kabupaten Maros
Sebelah Selatan         : Kabupaten Takalar dan kabupaten Jeneponto
Sebelah Timur           : Kabupaten Sinjai, Bulukumba dan Bantaeng.         
Sebelah Barat            : Kota Makassar dan Kabupaten Takalar
19






                                        


Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta Kabupaten Gowa di bawah ini
Gambar 1.1. Peta Kabupaen Gowa

B.  Gambaran Umum Kondisi Sosial Ekonomi
1.    Kondisi Warga (Rumah Tangga)
a.    Pemukiman Pasar Sungguminasa
                   Lokasi pertama bertempat di sekitar daerah Pasar Sore Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Di daerah ini lingkungannya sangat memperihatinkan karena banyaknya sampah yang berserakan di sekitar pasar.
b.    Pemukiman Penduduk disekitar Pabrik Kertas Gowa
                   Dilihat dari segi pemukimannya, daerah ini masih tidak teratur. Rumah warga yang satu dengan rumah warga yang lain terpisah jarak yang cukup jauh.   Rumah penduduk pun sebagian masih tergolong pemukiman yang kurang layak.  Namun, jalanan di daerah ini sudah cukup baik karena berdasarkan informasi dari responden, bantuan pemerintah, khususnya pembangunan jalan cukup lancar.


c.    Pemukiman Masyarakat Malino
                   Kondisi warga di daerah ini sudah tergolong bagus hal ini ditunjukkan dengan banyaknya rumah penduduk yang telah diubah dari non permanen menjadi non permanen bahkan permanen, selain itu di daerah ini sudah banyak rumah-rumah penduduk yang didesain dan dibuat dengan arsitektur modern dengan jarak antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya begitu teratur.
2.    Mata Pencaharian Warga
a.    Pemukiman Pasar Sungguminasa
               Mata pencaharian masyarakat di lingkungan pasar sungguminasa sangat berfariatif mulai dari PNS, tukang becak, pedagang dan lain-lain.
b.    Pemukiman Penduduk disekitar Pabrik Kertas Gowa
               Mata pencaharian sebagian besar masyarakat di daerah ini adalah pedagang  dan buruh pabrik. Sebenarnya dulu masyarakatnya sebagian besar adalah karyawan di pabrik kertas, akan tetapi sejak pabrik itu di tutup, masyarakat cukup kesulian dalam memenuhi kebutuhan, sehingga yang hanya dapat mereka lakukan adalah berjualan berhubung mereka juga tidak punya cukup keterampilan dan skill untuk melamar pekerjaan di tempat lain. Dengan kata lain, kita dapat menyimpulkan bahwa kondisi warga di daerah ini masih berada pada tahap menengah ke bawah karena mereka masih merasa kekurangan biaya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
c.    Pemukiman Masyarakat Malino
Mata pencaharian penduduk di daerah ini homogeny atau mayoritasnya adalah pedagang. Hal ini disebabkan karena tingginya tingkat pariwisata di daerah ini sehingga masyaraka menilai dan menganggap bahwasany berdagang merupakan pekerjaan yang cukup[ menjanjikan bila dikembnagkan secara profesinal di daerah ini.




3.    Hubungan Sosial Budaya Antar Warga
a.    Pemukiman Pasar sungguminasa
                   Hubungan sosial budaya penduduk lingkungan pasar sungguminasa, cukup baik, meskipun lingkungan pemukiman mereka cukup kumuh dan posis rumah mereka yang tidak beraturan. Hal itu terbukti dengan adanya sikap tenggang rasa yang tinggi antar sesama warga. Budaya pun tetap mereka lestarikan. Mereka senantiasa menjunjung tinggi budaya kebersamaan dalam berbagai hal.
b.    Pemukiman Penduduk disekitar Pabrik Kertas Gowa
                   Penduduk di daerah ini cukup menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang ada. Hubungan social antar warga pun terbilang erat. Jika ada sebuah acara, mereka saling berpartisipasi demi menjaga tali silaturahmi antar sesama.
c.    Pemukiman Masyarakat Malino
                   Hubungan sosial budaya di lokasi ini tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan lokasi sebelumnya. Baik itu hubungan social antar warga maupun nilai budaya masih sangat terjaga dengan baik.
d.  Pemukiman Masyarakat Kanreapia
                   Pada lokasi ini, hubungan social budaya antar warga sangat baik dan sangat erat. Selain karena masyarakat di daerah ini cukup homogeny, mereka juga masih memegang adat-istiadat dari nenek moyang terutamadalam hal kegotong-royongan dan budaya malu. Mereka memiliki rasa kerja sama yang sangat tinggi. Sebagai contoh, jika ada seorang warga yang hendak membangun rumah, maka seluruh warga turut berpartisipasi membantu pembangunan tersebut tanpa upah atau gaji, tidak seperti masyarakat kota pada umumnya.

C.  Gambaran Umum Kondisi Fisik
1. Morfoligi Wilayah
a. Pemukiman Bumi Batara Gowa
                   Tanah di lokasi ini tanah yang berlumpur dan cukup rendah, akibatnya banyak genangan air di sekitar perumahan warga.
b. Pemukiman Penduduk disekitar Pabrik Kertas Gowa.
Tanah di daerah ini termasuk daerah yang tanahnya berbatu. Karena termasuk dataran rendah, maka tipe hidrologinya ialah air tanah dan juga di daerah ini menggunakan air Pompa Air Minum (PAM).
c. Pemukiman Masyarakat Malino
Wilayah Kecamatan Tinggimoncong memiliki topografi yang bervariasi, secara umum mulai dari datar, datar berbukit, datar bergelombang, bergelombang, dan curam. Jenis tanah di Kecamatan Tinggimoncong antara lain Tropodult, Troporthent, dan Tropohumult. Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson bahwa dikecamatan Tinggimoncong memiliki jumlah rata – rata bulan basah 9 (>100mm) dan rata – rata bulan kering 3(<65mm) termasuk dalam tipe iklim C. Kecamatan Tinggimoncong memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Desember, Januari, Februari. Sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus dan September. Adapun penggunaan lahan di Kecamatan Tinggimoncong pada umumnya didominasi oleh hutan, selain itu juga banyak terdapat belukar, lading.
            Ketinggian daerah ini juga bervariasi antara:
Ø  0 – 25 m seluas 437,64 km;
Ø  25 – 100 m seluas 89,53 km;
Ø  100 – 500 m seluas 338,34 km;
Ø  500 – 1000 m seluas 439,79 km;
Ø  diatas 1000 m seluas 350,03 km.
2. Kemiringan Lereng
Klasifikasi kemiringan lereng yang dikeluarkan oleh Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum Tahun 1992, menerangkan bahwa :
a.    Kemiringan lereng antara 0 - 8 % merupakan daerah datar sehingga memiliki daya dukung lahan yang tinggi bagi pengembangan segala aktifitas kota.
b.    Kemiringan lereng antara 8 -15 merupakan daerah datar yang memiliki daya dukung lahan tinggi bagi pengembangan kota.
c.    Kemiringan lahan 15 – 25 % merupakan daerah landai dengan daya dukung lahan sedang bagi pengembangan.
d.   Kemiringan lereng 25 – 40 % merupakan daerah yang curam dengan daya dukung lahan rendah, tidak cocok untuk daerah perkotaan.
e.    Kemiringan lereng >40 % merupakan daerah sangat curam, daerah dengan daya dukung lahan yang sangat rendah dan tidak cocok untuk di alokasikan sebagai daerah perkotaan.
Untuk daerah Pemukiman Pasar Sungguminasa dan Pemukiman Penduduk disekitar Pabrik Kertas Gowa, dan Pemukiman Masyarakat Parangloe memiliki kemiringan lereng yang kurang signifikan. 

3. Suhu Daerah Setempat
Suhu pada daerah Pemukiman Pasar Sungguminasa dan Pemukiman Penduduk disekitar Pabrik Kertas Gowa, berkisar 270C - 320C. Suhu di daerah ini berada di atas suhu normal sebagian besar wilayah di Indonesia yakni 270C karena dipengaruhi oleh beberapa factor salah satunya adalah tingginya tingkat polusi sehingga pemanasan global pun tak terelakkan.
Dari hasil observasi, menurut penduduk local dan para pendatang suhu di Malino, Kecematan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa telah mengalami perubahan. Dari tahun ke tahun perbahan suhu telah terjadi. Suhunya sudah tidak sesejuk yang dulu. Hal ini terjadi karena beberapa factor yaitu antara lain:
a.       Bertambah banyaknya penduduk Malino. Hal ini disebabkan banyaknya pendatang yang menetap.
b.      Terjadinya perubahan tata ruang lingkungan, yang dulunya merupakan hutan kini menjadi pemukiman.



D.           Gambaran Lingkungan Akibat Pendatang
               Akibat dari banyaknya pendatang yang menetap di daerah malino memberikan pengaruh besar terhadap lingkungan daerah setempat. Misalnya yaitu terjadinya perubahan suhu, sekarang suhunya sudah tidak terlalu dingin di bandingkan dari tahun-tahun sebelumnya. Kemudian memberikan perubahan terhadap tata ruang dari daerah malino. Daerah yang dulunya hutan kini menjadi daerah pemukiman.

E.            Pembahasan
Kegiatan Praktek lapang yang diadakan di Malino (secara umum), Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Dalam pengenalan lapangan ini, kami para mahasiswa terjun langsung ke lokasi tersebut untuk melakukan survei kemasyarakat setempat guna mengetahui keadaan lingkungan, iklim, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan yang ada di desa tersebut. Kami berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat guna mendapatkan data-data atau informasi yang berkaitan dengan studi lapangan kami. Jumlah warga yang kami wawancarai sebanyak 20 orang dan hasil yang didapat dari wawancara ini adalah rata-rata pendidikan warga sebagian besar hanya tamat SMA dan SMP berdasarkan wawancara langsung dengan responden ternyata yang menyebabkan rendahnya jenjang pendidikan itu karena beberapa factor diantaranya jarak sekolah yang sangat jauh ditambah lagi kondisi jalan yang rusak, masih minimnya kesadaran orang tua terdahulu akan pentingnya pendidikan sehinggah baru saat inilah mereka menyadari semua itu.
Fakta lain yang didapat yakni mengenai pekerjaan dimana rata-rata pekerjaan masyarakat didaerah tersebut bergantung pada alam yaitu mereka bercocok tanam dan hanya sebagian dari masyarakat yang bekerja selain itu misalnya tukang kayu, pedagang, wiraswasta dan guru. Dari hasil bercocok tanam banyak masyarakat yang mengeluh masalah keuntungan yang diperoleh karena harga jual dilapangan tidak sesuai dengan harga yang sesungguhnya, hal ini disebabkan karena jauhnya jarak yang ditempuh pembeli sehingga mereka mengurangi harga beli pada petani, selain itu masyarakat juga mengeluh masalah pertanian disebabkan karena kondisi iklim yang merugikan masyarakat utamanya pada musim hujan karena pada musim ini banyak tanaman yang rusak.
Bila dilihat pada lingkungan perkebunan terlihat sekali pemandangan yang sangat indah dari kondisi lingkungan yang penuh dengan tanaman yang teratur serta sengkedang yang tampak jelas pada lading-ladang petani. Kondisi lingkungan seperti ini memberikan daya tarik sendiri bagi para wisatawan sehinggah sering orang dari luar malino datang untuk melihat daerah tersebut dan ini bisa menjadi dorongan untuk pemerintah agar lebih memperhatikan lingkungan daerah tersebut menjadi lebih baik lagi.
Menurut salah seorang responden, sebenarnya malino telah layak intuk berdiri sendiri sendiri sebagai suatu kabupaten dan mengurus pemerintahannya sendiri, dan hanya dengan hla itu pembanguna dan pengelolaan lingkungan di malino akan maksimal jika malino berdiri sendiri sebagai suatui kabupaten, namun ujarnya, hal ini tidak akan terjadi jika tidak ada yang ingin memulai untuk melakukan perubahan kejalan yang lebih tinggi karena hanya dengan perubahan daerah malino akan maju dan dapat bersaing dengan daerah-daerah lain di sulaweasi atau bahkan di Indonesia.
Kondisi lingkungan di daerah tersebut masih diperhatikan oleh masyarakat dan juga pemerintah seperti membuat aturan mengenai penebangan liar dan pada aturan itu juga dikatakan bahwa jika mau membuat bangunan dari kayu maka pohon kayu ditanam bertahun tahun sebelum ditebang itu pun jika mau menanam pohon harus ada izin dari pemerintah. Daerah ini merupakan daerah yang masyarakatnya sebagian besar bercocok tani. Hal ini menyebabkan hutan dahulu yang lebat sekarang sudah gundul, namun masyarakat mengerti mengenai hal ini sehinggah mereka menanam tanama berupa rumput-rumput yang berfunsi menyerap air bila musim hujan sehinggah bencana longsor dapat dikendalikan.
Dilihat dari kondisi air mereka memperoleh air itu berasal dari PAM. Jadi, dapat dikatan bahwa sumber air rata-rata sumber air yang besih. Hal lain yaitu mengenai sampah. Sampah yang dibuang masyarakat umumnya dibuatkan lubang kemudian jika sudah penuh maka akan ditutup, dan ada juga yang langsung membuang dibelakang rumah saja tanpa mnggali lubang kondisi sampah ini sangat membahayakan jika sudah menumpuk karena menghasilkan pencemaran yang menyebabkan timbulnya berbagai macam wabah penyakit. Selain itu, sebagian masyarakat yang dekat sungai membuang sampahnya di sungai tersebut. Daerah Malino ini memiliki suhu yang sangat dingin sehingga banyak masyarakat yang menghentikan aktivitasnya pada sore hari sekitar setengah lima, karena kondisi ini juga kebanyakan dari pohon besarnya adalah pohon pinus dan tanaman yang ditanaman petani berupa tanaman yang tahan terhadap suhu tersebut. dan jika dilihat dari segi kebiasaan masyarakat jarang sekali melakukan perkumpulan-perkumpulan seperti masyarakat pada umumnya di daerah lain, hal ini mungkin dikarenakan karena suhu yang dingin sehingga jarang masyarakat yang keluar melakukan hal itu apalagi pada saat malam hari. Meskipun demikian, sebagian dari mereka juga ikut dalam kegiatantan social yang dilakukan di daerah tersebut yaitu kegiatan gotong royong atautau  bekerja bakti dalam pembersihan masjid, dan lain-lain.




BAB V
PENUTUP

A.  Kesimpulan
      Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1.      Kondisi sosial masyarakat, khususnya di Kabupaten Gowa sangat bagus, karena ketidakadanya perselisihan-perselisihan yang terjadi antar warga masyarakat.
2.      Kondisi ekonomi masyarakat khususnya di Kabupaten Gowa, umumnya di atas rata-rata, namun pada saat musim penghujan, karena dominan bekerja sebagai petani maka hasil pertaniannya kurang baik.
3.      Kondisi fisik wilayah di Kabupaten Gowa, khususnya di daerah Tinggimoncong, wilayahnya memiliki topografi yang bervariasi, secara umum mulai dari datar, datar berbukit, datar bergelombang, bergelombang, dan curam.
4.      Pendatang yang menetap di daerah malino,  memberikan pengaruh yang besar terhadap wilayah tersebut. Karena selain terjadinya pertambahan penduduk memungkinkan juga terjadinya perubahan tata ruang yang menyebabkan terjadinya perubahan suhu di daerah tersebut, yang dulunya begitu sejuk kini menjadi kurang sejuk dari sebelumnya.

B.  Saran
  1. Sebaiknya masyarakat agar lebih menjaga kebersihan lingkungannya dengan tidak membuang sampah disembarang tempat dan mengurangi ekploitasi lahan, terutama pada hutan.
  2. Diharapkan kepada pemerintah setempat agar lebih memperhatikan kelestarian lingkungan, dengan menindak tegas para pelaku perusak lingkungan.
  3. Diharapkan kepada semua peserta praktikum agar kiranya dapat berpartisipasi aktif  dalam melakukan kegiatan pendataan beserta  kegiatan lainnya yang bersinggungan langsung dengan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA


Leo, Nurzakariah, dkk. 2011. Modul Pengetahuan Lingkungan. Makassar: FMIPA UNM.
Dharma, Agus. 2011. Banjir. Staffsite.gunadarma.ac.id/agus_dh/. Diakses tanggal 13 Desember 2011
Renstrada. 2009. Lingkungan. Jakarta: Pemprov DKI Jakarta
Soerjaamadja, R.E.S. 1981. Ilmu Lingkungan. Bandung: ITB
Soerjani, M. 1985. Alam Sebagai Sumber Moral. Diskusi panel PPSML-kelompok alumni filsafat.jakarta. 18 juli 1985
Soerjani, M. 1987. KUrsus  dasar-dasar Analiosis Dampak Lingkungan-UI XVII, 4-20 Desember 1987. Psml-UI, Jakarta.











1 komentar: